Dalam kehidupan rohani, percaya kepada Tuhan saja tidak cukup. Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk datang dan hadir, tetapi untuk benar-benar tertanam. Orang yang hanya singgah berbeda dengan orang yang tertanam.
Orang yang singgah mudah pindah ketika merasa tidak nyaman, mudah tersinggung saat ditegur, dan mudah goyah ketika masalah datang. Tetapi orang yang tertanam memiliki akar yang kuat. Ia tidak mudah tercabut walaupun badai kehidupan datang.
Penggembalaan bukan hanya datang ke gereja setiap minggu. Penggembalaan adalah proses belajar dan dibentuk. Di dalamnya kita dibimbing, diarahkan, ditegur, dipulihkan, dan ditumbuhkan oleh Tuhan melalui seorang gembala. Seperti domba yang membutuhkan gembala untuk menuntun dan menjaga, kita juga membutuhkan tuntunan rohani agar tidak tersesat.
Banyak orang merasa sudah tertanam, bahkan sudah lama melayani. Namun ketika masalah datang, mereka mudah menyerah dan keluar. Mengapa? Karena mereka belum sungguh-sungguh menyerahkan diri untuk dibentuk. Mereka mungkin aktif, tetapi tidak serius. Mereka melayani, tetapi tidak mau dibina. Akibatnya, ketika badai hidup datang, mereka mudah tercabut.
Sebaliknya, orang yang benar-benar tertanam akan terlihat dari sikapnya. Ia dewasa dalam berpikir, tidak mudah tersinggung saat dibicarakan orang, tidak cepat marah ketika ditegur, dan tetap setia dalam proses. Kehadirannya membawa damai dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Dalam Mazmur 1:1-3a memberikan pengertian yang baik bahwa orang yang berbahagia dan tertanam dalam firman Tuhan, kemanapun ia pergi, dia tidak akan pernah takut kepada siapapun dan tidak terpengaruh oleh apapun.
Tertanam dalam penggembalaan adalah keputusan yang serius. Ini bukan soal jabatan, bukan soal posisi, dan bukan soal perasaan. Ini adalah tentang komitmen kepada Tuhan. Komitmen untuk bertumbuh, untuk dibentuk, dan untuk tetap setia dalam sistem yang Tuhan tetapkan.
Karena hanya yang tertanam kuat yang akan tetap berdiri, bertumbuh, dan berbuah dalam segala musim kehidupan.